Institut Ibu Profesional

[Game #4.8] Bermain Peran

Semalam si sulung menulis huruf hijaiyah yang disalinnya dari buku Iqro’. Dua halaman sekaligus. Saya tanya mengapa dia menulis begitu banyak. Dia jawab tulisan itu untuk mengajari adiknya. Setelah selesai, tulisan itu ditempelnya di etalase.

Benar saja, dia kemudian mulai mengajari adiknya, bermain peran menjadi guru yang mengajar di depan kelas dan adik menjadi muridnya. 

“Ayo dek! Dengarkan mas ya. Ikuti bacaan mas! Oke!”

“Oke maaaa.”

Dan pelajaran dimulai. Diawali dengan membaca Fatihah, membaca huruf yang sudah ditulis si mas, dan diakhiri doa penutup majlis. 

Tentu saja si murid tidak selalu menurut. Kalau si murid sudah mulai meleng, si mas memakai strateginya.

“Adek nanti bintangnya satu lho kalau ga mau perhatikan mas!”

Hah! Saya yang menyaksikan adegan itu tertawa geli. Saya merasa heran dari mana si guru ini meniru strategi itu karena saya merasa tidak pernah memakai iming-iming ini-itu ketika mengajak mereka belajar. 

Saya yang penasaran pun akhirnya bertanya.

“Emang kalau adek mau denger mas bakal dikasih bintang berapa?”

“Tiga kata bu guru.”

O…ketemu! Rupanya dia menirukan guru-guru di sekolahnya dalam peran ini. 

Di kesempatan lain, saya juga mendapati anak-anak memainkan peran lain dalam permainan mereka. Seperti ketika saya asyik mengetik, si adek membawakan gelas mainannya ke saya.

“Minum kopinya dulu bu. Enak kan kopinya?”

Atau saat dia membawa keranjang legonya dan menghampiri saya.

“Ibu, ibu sakit ya? Nih adek beliin obat. Ini sendoknya. Ini botol obatnya.”

Dan masih banyak kejadian lucu yang membuat saya terharu dan tertawa.

Bermain peran ternyata mempunyai peranan penting dalam proses belajar anak. Bahkan dalam pendidian berbasis sentra, bermain peran dijadikan salah satu pijakan yang harus dilalui anak-anak. Bedanya, kalau di sekolah bermain peran bersifat terbatas (karena terbatasnya waktu dan fasilitas) dan terkesan rekayasa (karena memang dipersiapkan dan direkayasa) hal itu tidak terjadi ketika mereka bermain bebas di rumah. Mereka bebas bereksplorasi dan memilih peran apa saja yang mereka suka. Tinggal kita sebagai orang tualah yang harus benar-benar hadir dalam membersamai mereka. Kehadiran ini tidak sekedar fisik semata, lebih dari itu, kehadiran hatilah yang menjadikan kebersamaan itu menjadi bermakna.

Soal gaya belajar anak dalam bermain peran ini saya melihat anak-anak masih kuat di gaya visual, meskipun unsur auditori dan kinestetik juga ada. Apalagi bila menyaksikan gaya si mas dalam mengajar, unsur visual sangat mendominasi. Sementara permainan peran si adek yang masih bebas leboh bersifat paduan dari beberapa gaya. Si adek yang biasanya lebih banyak gerak ternyata mengandalkan pengamatannya sebagai modal permainan perannya. Saya kira si adek pun memakai gaya visual dalam hal ini.

#Tantangan10Hari

#Harike8

#GayaBelajarAnak

#Level4

#KuliahBunSayIIP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s