Pendidikan Anak

Membangun Kedekatan Ayah-Anak


Melihat ayah-anak bermain dengan riang membuat saya merasa damai. Sebagai seorang ibu-istri saya berharap kedekatan ini akan terjalin selamanya. 

Sejak pindah ke kampung, waktu bersama anak memang lebih banyak karena usaha yang kami jalankan kami lakukan di kios depan rumah. Kios tempat kami bekerja juga merupakan tempat anak-anak bermain, belajar, dan melakukan apa saja. Hanya saja terkadang ketika pekerjaan dan orderan sedang ramai seperti saat ramai kegiatan akreditasi, keberadaan kami sebagai orang tuanya, terutama abahnya, seakan hanya kehadiran fisik saja. Maka saat kerjaan selesai, waktu semua tercurah untuk anak-anak. 

Tidak ada hal mewah dalam liburan hari ini. Semua permainan dilakukan dengan media yang ada di rumah. Tidak harus ke mall, tidak harus dengan permainan yang mahal, tidak harus di depan TV, semua sederhana. Yang pasti, saya merasakan kasih sayang yang berlimpah antara kedua ayah-anak itu.

Saya masih ingat dengan salah seorang kerabat yang saking sibuknya, hampir tiap hari tidak bisa bercanda dengan sang anak. Sang ayah berangkat bekerja saat anak masih tidur dan baru pulang ketika sang anak sudah tidur. Itu terjadi setiap hari, bahkan terjadi juga di hari libur. Akhirnya, ketika kesempatan berkumpul bersama itu datang, sang ayah selalu memanjakan sang anak yang bagi saya terlalu berlebihan, dengan menuruti semua keinginan anak, tidak terlalu peduli dengan kewajiban sholat, atau bahkan memberikan kebebasan anak dalam pergaulan. Akibatnya, yang nampak adalah anak tumbuh dalam kebiasaan yang kosumtif. Sang ibu tidak bisa berbuat banyak karena sang anak selalu berdalih kalau semua perilakunya itu diizinkan oleh sang ayah.

Bagi saya, kewajiban seorang ayah tidak sekedar mencari nafkah dan memenuhi semua kebutuhan keluarga secara materi dan urusan mendidik anak serta mengurus rumah adalah sepenuhnya tanggung jawab seorang ibu. Memang dalam pembagian tugas, ada penanggung jawabnya, tapi itu bukan berarti melepaskan satu pihak atas kewajiban lainnya, apalagi soal mendidik anak. 

Bagaimana pun, anak membutuhkan figur seorang ayah dalam kehidupannya (kalau ayahnya masih ada). Keseimbangan karakter ayah-ibu dalam simbol Yin-Yang (kualitas maskulin positif-feminin positif) yang saling melengkapi dibutuhkan tiap anak untuk tumbuh dalam karakter yang seimbang. Anak akan tumbuh dengan sikap tegas sekaligus mempunyai kasih sayang, mempunyai sifat memimpin sekaligus memelihara. Hal ini hanya bisa terwujud ketika sang ayah ikut terlibat dalam proses pendidikan sang anak melalui teladan nyata, kehadiran fisik, serta interaksi yang intens (yang tulus), bukan sekedar basa-basi. 

Saya pun teringat dengan sosok abah di kampung. Abah saya adalah sosok yang sederhana, tidak berpendidikan tinggi, tidak berpangkat, bukan seorang pejabat, hanya seroang petani desa yang menggarap sawah dan sesekali mengajar ngaji para tetangga. Tapi abah berhasil mengantar anak-anaknya menjadi anak-anak yang cinta ilmu (lima dari tujuh anaknya sudah kuliah –meskipun kuliah tidak menjadi satu-satunya ukuran kecintaan ilmu), mendidik anak-anaknya dengan tauhid dan akhlak, memberikan teladan dalam keteguhan memegang prinsip kebenaran, menanamkan sikap tidak cinta dan silau pada dunia, yang semua itu masih terekam jelas dalam ingatan saya dan adik-adik saya. Suami saya pun mengakui bahwa saya dan saudara-saudara saya sangat mewarisi karakter kuat abah. Hal ini tidak mungkin terwujud seandainya saja abah abai pada pendidikan kami di usia dini kami pada masa lalu. Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s