Spiritual

Karena Keberagamaan itu Tidak Diwariskan, Nak! 

“Kalau yang dimaksud dengan agama hanya sekedar agama dalam KTP, wajar kalau itu disebut warisan. Tapi keberagamaan dan pengalaman spiritual, itu sangat beda dengan agama an sich. Ia sangat individual, tidak bisa diturunkan, tidak bisa diwarisi, dan kelak akan dipertanggungjawabkan secara individu.” Nak, kalian memang dilahirkan dari orang tua beragama Islam. Karena itulah kalian tumbuh… Continue reading Karena Keberagamaan itu Tidak Diwariskan, Nak! 

pernikahan

Bacaan Iqra Pertama Fawwaz

“Tidak ada metode yang lebih efektif dalam pendidikan dari teladan.” Saya tidak pernah meminta lebih-lebih memaksa anak-anak belajar baca-tulis-hitung. Yang saya lakukan adalah menyiapkan atmosfir sejuk yang bisa memantik rasa ingin tahu mereka.  Apa saja itu?  1. Menjadikan buku sebagai pemandangan sehari-hari. Di rumah kami tidak ada hiasan rumah atau perabotan mahal sebagai pajangan, yang… Continue reading Bacaan Iqra Pertama Fawwaz

pernikahan

Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

Saya perlu tegaskan di awal, bahwa saya tidak hendak berperang dengan siapapun di sini. Saya hanya ingin menanggapi postingan sahabat saya yang memberi pengantar pada sebuah tautan http://www.cerpen.co.id/post_140036.html yang memberi kesimpulan bahwa perempuan harus bekerja (di luar rumah?) sebagai solusi terbaik.  Pertama, ada banyak logika yang rancu, baik dalam artikel maupun pengantar yang ditulis. Untuk menghindari perdebatan,… Continue reading Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

pernikahan

Menghargai Keinginan Anak

“Ayolah bu, cepat ganti bajunya. Sudah terlambat ke sekolah nih. ” Saat itu saya masih pakai daster, baju andalan saat melakukan standar pagi. Sejak tinggal di kampung, saya memiliki standar pagi yang menurut saya cukup konsisten. Yaitu, semua pekerjaan rumah, meliputi masak, cuci baju, mengurus dua anak, nyapu, selesai pukul 07.30. Jadi saat mengantar anak… Continue reading Menghargai Keinginan Anak

perempuan

Akulah Mei

“Rin, apa sih alasan kamu menolak lamaran Andika? Kurang apa dia? Mau nunggu apa lagi? Kuliah sudah kelar. Pekerjaan sudah mapan. Apa kamu mau jadi seperti Mei, si perawan tua tetangga sebelah itu?” Tanpa sengaja aku mendengar suara Bu Mardi ketika aku lewat di depan rumahnya. Sakit rasanya hatiku mendengar kata-kata Bu Mardi, meski ini… Continue reading Akulah Mei