Institut Ibu Profesional

Aliran Rasa : Menelisik Gaya Belajar Anak

Sebenarnya game kali ini cukup menyenangkan bagi saya karena saya harus mengamati, menuliskan, dan menemukan keunikan gaya belajar anak-anak. Saya merasa “menguasai” tema ini dibanding tema-tema game sebelumnya. Hanya saja ada beberapa kendala yang akhirnya saya tidak lolos di game ini, seperti kendala HP yang mulai ngambek karena batereinya rusak, sinyal yang ampun-ampunan menguji kesabaran ketika hendak setor link tugas, sampai akhirnya saya menyerah disetoran ke-11 karena sibuk membantu pernikahan sepupu.

Begitulah keadaan pelaksanaan tugas saya dalam game ini. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya untuk saya sendiri dalam hal ini. 

Pertama, setiap anak itu unik. Farras dan Fawwaz misalnya. Mereka lahir dari rahim yang sama, namun mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar mereka. Farras yang cenderung anteng bisa duduk berjam-jam, sangat visual, imajinatif, sementara Fawwaz lebih suka bergerak.

Awalnya saya menduga Fawwaz bergaya kinestetik murni. Tapi nyatanya ketika dibacakan buku yang dia sukai, dia bisa anteng duduk dalam durasi lama untuk anak seusia dia. Jadi saya merevisi dugaan saya dan melanjutkan pengamatan saya.

Kedua,  jujur saja, saya sebenarnya tidak terlalu memberikan perhatian besar pada soal gaya, atau jenis kemampuan, atau hal-hal yang menyangkut jenis keprbadian. Saya tidak terlalu mengambil pusing dengan nama-nama atau sebutan-sebutan. Karenanya saya tidak begitu menguasai penamaan-penamaan ini, terutama nama gaya belajar ini. Itu karena saya tidak mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dalam proses pembelajaran saya selama ini. Saya bertipe dominan visual yang mana tipe ini sangat disukai sistem persekolahan. Jadi saya mulus-mulus saja dalam hal gaya belajar. Tapi bukan berarti materi tentang macam-macam gaya belajar ini tidak bermanfaat bagi saya. Saya dibuat untuk merefleksi pengalaman mengajar saya yang ternyata sangat buruk. Saya seperti kebanyakan guru hanya menghargai anak-anak tipe visual saat itu. Saya tidak memberi tempat pada gaya yang lain karena keterbatasan ilmu saya. Dengan materi ini, saya sedikit bisa memahami bahwa saya ternyata sudah melakukan kesalahan dan saya tidak ingin mengulanginya di masa mendatang.

Ketiga, khusus untuk anak-anak saya. Pastinya pengalaman saya ini sangat bermanfaat untuk membersamai mereka. Tugas saya sebagai orang tua adalah menemani mereka, memberikan stimulus, tanpa harus menyetir gaya mereka. Untuk Farras mungkin saya tidak mengalami keulitan karena saya dan dia mempunyai persamaan gaya. Tantangannya ada pada adiknya. Inilah perjalanan baru yang sama sekali berbeda bagi saya. 

Game ini semacam permulaan pengamatan dan tidak akan berhenti sampai pada setoran tugas ke-11 seperti yang tertulis di blog. Anak-anak masih sangat belia, perjalanan mereka masih panjang. Semoga saja kami bisa membersamai mereka dalam belajar bersama-sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s