Keluarga

Ketakutan Saat Remaja

Manusia takut akan hal yang tidak dikenalnya, begitulah kata pepatah. Saya sangat takut dengan kehidupan berumah tangga saat itu,  saat saya masih remaja, saat saya masih suka berkelana dan bertemu dengan banyak pahitnya hidup yang nyata di hadapan mata saya.

Saya ingat sekali, peristiwa yang menjadi awal ketakutan saya adalah perceraian artis senior, Dewi Yull. Saya juga masih ingat kenapa perceraian itu terjadi. Saya bahkan menuliskan peristiwa dan kesan saya di buku harian saya. Saat itu saya merasa berumah tangga begitu menakutkan bagi perempuan, khususnya saya. Saya juga membaca banyak kisah, baik dari buku, media, maupun berita-berita betapa perempuan seringkali berada di posisi yang memprihatinkan. Seolah sudah menjadi jalannya, perempuan itu harus mengalah, kalah, dan tempatnya salah. Siapa lawannya? Tak lain dan tak bukan adalah makhluk laki-laki terdekatnya, ayah, suami, kakak, atau pamannya.

Setelah peristiwa itu, saya kemudian bergabung di organisasi keperempuanan. Saya semakin intens mengkaji tentang masalah-masalah perempuan yang umumnya masalah ketertindasan perempuan. Berbagai kajian, seminar, pelatihan seputar keperempuanan saya ikuti. Buku-buku tentang perempuan juga menjadi buku favorit saya. Bisa dikatakan, saya adalah aktivis gender saat itu. Dari pengalaman itu, saya semakin tau bagaimana keadaan perempuan di berbagai belahan bumi. Sebagian besar mereka terjajah. Dan ketakutan akan penjajahan itulah yang ketakutan terbesar yang saya rasakan saat saya remaja. Saya takut saya akan mengalami hal yang sama.

Di sisi yang lain, pengalaman saya bergelut di dunia keperempuanan juga memberikan cara pandang seperti yang saya miliki saat ini, “bahwa saya perempuan kuat, tidak ada siapapun yang bisa menyakiti saya, bahkan orang terdekat saya sekalipun. Saya punya pilihan dalam hidup saya. Dan saya memilih untuk bahagia.”

Perjalanan hidup saya terus melaju. Saya pun akhirnya bertemu dengan pangeran hidup saya. Sebelum menikah, saya sampaikan semua keinginan dan harapan saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya perempuan merdeka dan punya banyak pilihan. Kami juga menyepakati perjanjian pranikah yang di dalamnya ada hal-hal tentang KDRT dan lainnya. Calon suami yang masih ada hubungan sepupu sangat memahami saya dan menyetujui semuanya.

Kami menikah. Memang ada duka dan aral yang merintangi perjalanan kami, tapi sejauh ini (dan semoga selamanya), kami bisa melewatinya. Tidak semua perempuan bisa ditindas dan tidak semua laki-laki menindas, suami saya salah satu di antaranya. Ketakutan saya pun perlahan luntur dan hilang seiring dengan berjalannya waktu dan lahirnya dua jagoan di kehidupan kami. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s