pernikahan

Menghargai Keinginan Anak

“Ayolah bu, cepat ganti bajunya. Sudah terlambat ke sekolah nih. ”
Saat itu saya masih pakai daster, baju andalan saat melakukan standar pagi. Sejak tinggal di kampung, saya memiliki standar pagi yang menurut saya cukup konsisten. Yaitu, semua pekerjaan rumah, meliputi masak, cuci baju, mengurus dua anak, nyapu, selesai pukul 07.30. Jadi saat mengantar anak ke sekolah, semua pekerjaan rumah selesai. Nah, dalam mengerjakan standar pagi itu saya memakai daster karena saya merasa nyaman. Setelah semua beres, saya mandi, ganti baju, sholat dhuha, dan siap mengantar anak ke sekolah. 

“Memangnya kenapa kalau ibu ke sekolah pakai baju ini?” Saya mencoba menggodanya. 

“Janganlah. Itu baju buat masak. Aku ga mau ibu pakai baju itu ke sekolah. Kaya ibunya ********. Aku nggak suka.”

“Jadi ibu harua pakai baju apa dong?”

“Baju yang rapi bu. Jangan pakai baju masak atau baju tidur.”

Begitulah sulung saya. Hampir selalu dia memperhatikan penampilan saya. Saat milih baju di toko, selain abahnya, sulung saya ini juga ikut-ikutan cerewet menentukan mana baju yang pas untuk saya. Seringkali saya mengalah pada selera mereka. Tidak apa-apa, toh saya sekarang juga milik mereka. 

Dalam kasus daster tadi, saya kemudian bertanya kepadanya, kenapa saya harus ganti baju? Apakah dia merasa malu bila saya berdaster ke sekolah? 

“Iya. Aku malu kalau ibu pakai baju itu.”

Oh… Ada rasa malu padanya bila saya memakai pakaian tidak rapi. Saya menghargai itu. Bisa saja saya mengabaikan perasaannya. Tapi saya pernah merasa di posisi itu. Saya harus memakai seragam sekolah yang tak biasa waktu itu. Karena keterbatasan, orang tua memaksa saya memakai seragam yang tidak sama dengan teman-teman saya. Jujur saja, saya malu. Saya sudah katakan tidak mau memakainya. Tapi orang tua saya mengabaikannya. Maka saat Farras mengatakan dia malu bila saya memakai baju tidak rapi ke sekolah, saya menghargai itu. 

Saya bergegas mandi dan memilih kaos panjang setelan kulot. Saya tanyakan padanya, apakah saya sudah pantas ke sekolah memakai baju tersebut? Dia mengangguk dan tersenyum. 

Bukan baju mewah dan mahal yang dia inginkan pada saya. Baju rapi yang bila ia melihatnya, dia tidak merasa malu. Sesimpel itu keinginan dia sebenarnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s