pernikahan

Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

Saya perlu tegaskan di awal, bahwa saya tidak hendak berperang dengan siapapun di sini. Saya hanya ingin menanggapi postingan sahabat saya yang memberi pengantar pada sebuah tautan http://www.cerpen.co.id/post_140036.html yang memberi kesimpulan bahwa perempuan harus bekerja (di luar rumah?) sebagai solusi terbaik. 

Pertama, ada banyak logika yang rancu, baik dalam artikel maupun pengantar yang ditulis. Untuk menghindari perdebatan, ada baiknya hal-hal yang rancu itu diurai terlebih dahulu. 

  • Bekerja.

Bekarja dalam konteks ini apa? Apakah hanya untuk pekerjaan di luar rumah? Kalaupun dilakukan di dalam rumah, saya menangkapnya pekerjaan yang dimaksudkan hanya beroreientasi uang. Di artikel disebutkan si suami merasa bosan dengan istrinya yang tidak bekerja dan lusuh. Artinya memang pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan di luar rumah dan berorientasi uang. Sementara penulis memberi pengantar bahwa pekerjaan itu tidak hanya berorientasi uang semata, ada sisi lain,  yaitu aktualisasi diri. 

Saya ingin mengatakan, bahwa ada pilihan yang diambil sebagian perempuan secara gembira dan bahagia, yaitu tidak bekerja di luar rumah. Dan pilihan itu seharusnya dihormati. Bahwa tidak ada yang salah dengan pilihan itu, dan anjuran, baik penulis artikel (cerpen) maupun penulis pengantar tidak selamanya tepat bagi semua perempuan. Kenapa? 

Ada sebagian keluarga mempunyai nilai bahwa anak harus diasuh dan dididik oleh orangtuanya sendiri. Maka mereka berbagi tugas dalam hal ini, suami bekerja di luar dan istri bekerja di dalam rumah. Saya kira tidak ada yang salah dengan pilihan ini selama keduanya berkomitmen untuk sama-sama bertanggungjawab dalam rumah tangga mereka. Kenapa harus perempuan yang di rumah? Sebenarnya tidak harus sih, tapi jangan lupa, perempuan mempunyai kepribadian khas, yaitu merawat, menyusui, mengasihi, mendidik, dll. Itu sudah kodratnya dan tidak bisa ditukar dengan laki-laki. Maka saya sangat setuju dengan tesis ibu Ratna Megawangi, MEMBIARKAN BERBEDA, biarkan laki-laki dan perempuan itu berbeda, biarkan antar perempuan berbeda dan bebas menentukan pilihan mereka. Mereka yang memilih bekerja di luar maupun di dalam rumah, harus sama-sama dihormati dan tidak diintimidasi. Kalau dikatakan bahwa bekerja di luar membutuhkan ilmu ini-itu sehingga membuat lebih prestisius, saya akan dengan tegas menentang ini. Ibu rumah tangga di rumah pun bekerja. Ibu rumah tangga yang profesional pun sama tak kalahnya dengan yang bekerja di luar soal belajar dan kebutuhannya akan ilmu. Untuk mendidik dan mengasuh anak-anak dengan tepat dibutuhkan sederet ilmu parenting. Untuk membangun komunikasi yang tepat dengan anak dan suami dibutuhkan ilmu komunikasi produktif. Untuk menciptakan suasana rumah yang hangat dan menyenangkan diperlukan manajemen rumah yang tepat. Untuk mengatur keuangan diperlukan ilmu perencanaan keuangan. Belum lagi ilmu teknologi sebagai bekal menemani tumbuh-kembang anak. Dan yang tak kalah penting adalah ilmu agama. Kelihatannya muluk ya? Tapi itulah kenyataannya. Ada ratusan bahkan ribuan ibu di Indonesia yang tak malas belajar tentang semua itu. Saya sendiri menyaksikan betapa canggihnya ibu-ibu yang dianggap sepele karena pilihan mereka menjadi ibu rumah tangga ini. Mereka ada yang ahli di desain grafis dan menyalurkan bakatnya dalam membantu ibu-ibu lain untuk mempelajari hal yang sama. Mereka yang ahli dekorasi rumah membantu ibu-ibu lain mengatur dan memanajemen rumah mereka. Mereka yang ahli dalam manajemen SDM membantu ibu-ibu lain dalam pelaksanaan family project. Mereka semua ibu rumah tangga profesional yang tidak bekerja di luar rumah dan mungkin tidak berpenghasilan uang. Mereka bahagia dengan pilihannya, dengan keluarganya, dengan komunitasnya, dan mereka sukses dengan pendidikan anak-anaknya. Ada yang salah dengan pilihan mereka? 

  • Paradigma laki-laki perempuan harus sama

Kalau perempuan mau bahagia, ya harus bekerja seperti laki-laki. Sebenarnya pandangan seperti itu sudah kuno dan banyak mendapat kritik, terutama oleh para feminis ekofeminisme. Pandangan seperti itu tidak hanya merusak fitrah perempuan, tapi juga banyak menyebabkan kekacauan sosial, seperti tingginya angka perceraian akibat ketidakseimbangan kehidupan keluarga. Ayah-ibu bekerja dan banyak uang tidak menjadi jaminan kebahagiaan keluarga. Banyak keluarga yang tercerai-berai dalam kondisi demikian. Jadi kunci sebenarnya bukan pada bekerja atau tidaknya seorang perempuan. Lalu apa solusinya? 

  • Pendidikan menyeluruh

Didik anak-anak laki-laki kita menjadi pribadi bertanggung jawab, tangguh, tidak pengecut, dan menjadi imam yang baik. Kalau pendidikan ini berhasil, Anda pasti akan percaya tidak akan ada perselingkuhan dan penindasan yang dibangun anak-anak Anda. 

Kemudian, didik anak-anak perempuan Anda dengan ketegasan selain pendidikan keperempuanan. Jangan biarkan naluri kelemahlembutan mereka menjadi potensi ketertindasan mereka. Masalah finansial rumah tangga, ada hak-hak perempuan yang harus diberikan suami mereka. Ada pembagian harta gono-gini ketika terjadi perceraian. Kalaupun ada kasus seperti dalam cerpen tersebut, letak kesalahannya bukan pada perempuan yang tidak bekerja, tapi lebih pada kepribadian laki-laki yang menindas ditambah kurangnya ilmu dan kelemahan perempuan. Menyeru para perempuan bekerja ke luar rumah sama seperti laki-laki bukanlah satu-satunya solusi yang bisa dipilih dan paling bijak. 

Lalu, apakah saya tidak setuju dengab perempuan yang bekerja di luar? Bukan itu poin penting tulisan saya. Saya sangat menghormati dokter kandungan perempuan dan saya lebih memilih memeriksakan diri kepada mereka dibanding dokter kandungan laki-laki. Saya juga sangat kagum dengan dosen-dosen serta ilmuwan perempuan dan karya-karya mereka. Yang ingin saya tekankan adalah hormati perbedaan yang dipilih oleh para perempuan. Perempuan pekerja maupun ibu rumah tangga, mereka sama-sama bekerja. Mereka sama-sama memerlukan banyak keahlian dan ilmu serta wawasan jika profesi mereka dijalani dengan profesional. Dukung keduanya dan jangan intimidasi mereka dengan berita-berita yang menyudutkan mereka. 

#RamadhanInspiratif

#Challenger

#Aksara

Advertisements

3 thoughts on “Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

    1. Saya juga bekerja di rumah dengan banyak pertimbangan mbak. Anak-anak masih membutuhkan saya penuh waktu karena usia balita mereka. Tapi saya pun menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan saya.

      Makasih sudah berkunjung ya mbak.

      Like

  1. Saya juga bekerja di rumah dengan banyak pertimbangan mbak. Anak-anak masih membutuhkan saya penuh waktu karena usia balita mereka. Tapi saya pun menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan saya.

    Makasih sudah berkunjung ya mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s