pernikahan

Bacaan Iqra Pertama Fawwaz

“Tidak ada metode yang lebih efektif dalam pendidikan dari teladan.”
Saya tidak pernah meminta lebih-lebih memaksa anak-anak belajar baca-tulis-hitung. Yang saya lakukan adalah menyiapkan atmosfir sejuk yang bisa memantik rasa ingin tahu mereka. 

Apa saja itu? 

1. Menjadikan buku sebagai pemandangan sehari-hari. Di rumah kami tidak ada hiasan rumah atau perabotan mahal sebagai pajangan, yang ada hanya rak buku. Dengan begitu, anak terbiasa melihat buku. 

2. Membacakan buku secara rutin sejak dini. Dua anak saya, meskipun berbeda dalam gaya belajarnya, mereka mempunyai satu kesamaan, yaitu sangat antusias dan bahkan minta berkali-kali dibacakan buku. 

3. Tidak membatasi makna belajar hanya pada calistung, meja kursi, sekolah, kertas dan pena. Kami perluas makna belajar sampai seluas-luasnya sebagai proses mengenal, memahami, mentadabburi. 

4. Menanamkan cinta buku dan ilmu dan menjadikan proses pembelajaran sebagai proses yang menarik dan menyenangkan. 

5. Teladan. 

Fawwaz (2 tahun 4 bulan) semalam membaca Iqro dengan benar untuk pertama kalinya. Saya menunjukkan bacaan “a” dan “ba” baris atas dan dia membaca baris-baris berikutnya dengan lancar dan benar. 

Apa Fawwaz ujug-ujug bisa membaca? Tidak. Sudah berbulan-bulan Fawwaz ikut mengaji dan minta diajari ngaji sendiri saat kakaknya mengaji. Saya bahkan membelikan dia buku Iqro sendiri. 

Akhirnya saya mengajari mereka secara bergantian. Diawali doa bersama, kemudian sang adik saya minta menirukan bacaan saya di Iqro 1, masih cadel memang karena belum semua huruf bisa diucapkannya. Baru setelah selesai satu halaman, saya mengajari kakaknya, Farras (5 tahun) yang sudah Iqro 6. 

Pengamatan saya, Fawwaz sudah cukup bagus dalam berkonsentrasi untuk ukuran anak seusianya. Dia mampu bertahan menirukan bacaan satu halaman penuh, bahkan terkadang minta tambah bacaan. 

Nah, semalam saya coba untuk mengajarinya secara CBSA. Saya membacakan baris pertama, kemudian saya meminta dia membaca halaman 1. Hasilnya, alhamdulillah. Dia bisa dan nampaknya sudah siao belajar. 

Apakah tidak terlalu dini mengajarkannya membaca? Dalam hal ini saya tidak terlalu saklek menetapkan usia berapa anak diajarkan baca-tulis-hitung. Bagi saya, setiap anak unik. Perkembangan dan kesiapan anak juga unik. Pola dan metodenya juga unik. Artinya antara satu anak dengan yang lain itu berbeda. Bahkan antara dua saudara kandung pun beda. Dan yang paling paham akan hal ini adalah orang tuanya. Jadi, dalam hal ini, saya merasa Fawwaz sudah siap belajar. 

Lalu, apakah saya akan menjadwal rutin Fawwaz untuk mengaji? Saya akan ikuti saja pola dia. Selama ini dia selalu minta mengaji setiap bakda maghrib. Kalau memang bersedia diajari, akan saya lanjutkan. Tapi kalau dia lebih asyik dibacakan dan menirukan, saya akan lanjutkan.

Hakekatnya, orang tua hanya membersamai. Tidak memaksa atau menjejali. 

#RamadhanInspiratif

#Aksara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s