Spiritual

Karena Keberagamaan itu Tidak Diwariskan, Nak! 

“Kalau yang dimaksud dengan agama hanya sekedar agama dalam KTP, wajar kalau itu disebut warisan. Tapi keberagamaan dan pengalaman spiritual, itu sangat beda dengan agama an sich. Ia sangat individual, tidak bisa diturunkan, tidak bisa diwarisi, dan kelak akan dipertanggungjawabkan secara individu.”

Nak, kalian memang dilahirkan dari orang tua beragama Islam. Karena itulah kalian tumbuh dan besar dengan nilai-nilai Islam. Bersyukurlah atas itu karena tidak ada nikmat yang lebih besar atas keberislaman ini. 

Tapi peran abah dan ibu hanya sampai di situ. Abah dan ibu hanya bisa berdoa semoga kalian bisa istiqomah di jalan kita hingga ajal menjemput. Tidak ada kerugian yang lebih besar dibandingkan meninggalkan dunia tanpa iman. 

Karena itu, jalanilah hidup kalian dengan belajar, belajar apa saja yang memupuk keimana kalian. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali kalian sendiri. Ibu dan abah mungkin mewariskan agama, tapi tidak keberagamaan untuk kalian. Kalianlah yang merasakan keimanan itu. Kalianlah yang bisa memupuknya. Kalian pula yang bisa memetik kelezatannya. Semua itu butuh usaha kalian,  Nak. 

Ingatlah akan usaha itu terus menerus, Nak. Kenapa? Karena kita diajarkan untuk berusaha, bukan sekedar menerima takdir kemudian berdiam diri. Lahir dari keluarga beriman belum tentu mengantarkan kalian kepada keselamatan kalau kalian tidak menjaga keimanan kalian. Kalian tentu ingat bahwa anak sang Nabi Nuh pun tidak bisa diselamatkan dari azab. Paman Kanjeng Nabi pun tidak tercerahkan sampai akhir hayatnya, padahal kurang apa doa Kanjeng Nabi?

Maka untuk saat ini berayukurlah atas keadaan kalian. Selanjutnya, berusahalah sendiri dalam menjaga iman kalian. Dan satu hal lagi yang jangan sampai kalian abaikan, mintalah selalu petunjukNya sebagaimana doa kalian dalam setiap shalat kalian. Berdoalah karena Dialah yang menggenggam setiap hati. 

Itulah pesan untuk ibu untuk aqidah kalian. Untuk pribadi kalian. Tapi jika ada saudara sebangsa kalian yang berbeda dengan iman kalian, bertoleransilah! Hormati perbedaan di antara kalian. Mereka juga berhak hidup tenang sebagaimana ketenangan kalian. 

Mungkin kalian bertanya, apakah kalian bisa hidup rukun tanpa mengganggu keimanan kalian? Bisa. Ibu tegaskan kalian bisa.

Kita sudah punya pengalaman akan hal itu, Nak. Ingat Om Anton,  Om Pram, Om Samuel, Angel, Pakde Wayan? Mereka tetangga-tetangga sewaktu kita masih tinggal di Lampung dulu. Om Anton malah satu tembok dengan kita. Kita bisa saling mengasihi tanpa harus mengubek-ubek iman kita. Om Anton seorang Kristen yang mengundang seluruh tetangganya saat membaptis anak-anaknya. Semua tetangga datang, termasuk abah kalian meski untuk kita yang Muslim tidak ditempatkan di dalam rumah dan tidak mengikuti ritual pembaptisan. Saat aqiqah adik Fawwaz, Om Samuel dan Om Pram yang Kristen juga datang. Ayahnya Angel yang seorang Konghucu pun tak ketinggalan. Kita pernah merasakan itu, Nak. Percayalah, kerukunan bisa kita ciptakan tanpa harus menggugat aqidah kita. 

Sekali lagi Nak, keberagamaan kalian adalah tanggung jawab kalian sendiri. Ibi dan abah hanya bisa mengantar kalian sampai gerbang dengan pendidikan dan doa. Selanjutnya semua ada di tangan kalian. 

#RamadhanInspiratif

#Challenge

#Aksara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s