pernikahan

Celoteh Anak-anak Seribu Kata [1]

Anak kami dua. Keduanya laki-laki. Farras (5 tahun) dan Fawwaz (2 tahun 4 bulan). Umumnya anak laki-laki lebih pendiam daripada anak perempuan. Tapi itu tidak berlaku pada dua jagoan kami. Keduanya sangat doyan ngomong. Banyak sekali yang mereka ceritakan. Lebih-lebih si bungsu. Maka saya menjuluki mereka anak-anak seribu kata. 

Kemarin sore, saat nunggu azan maghrib, saya mengajaknya duduk di teras sambil menyaksikan keramaian jalan raya depan rumah kami. Hampir 1 jam kami duduk di sana. Dan selama 1 jam itu, si bungsu terus saja berbicara tanpa jeda. Saya tidak diperbolehkan menyela sedikitpun. Kalau saya cuma menanggapi “hmmmm…. Hmmmm,” dia juga memprotesnya.  “Ojo hmmm…hmmmm terus ibu.”

“ibu, itu motore apik.”

“mbah itu sapa namanya?”

“ibu, bude min mau kemana? 

“ibu.. Ibu.. Ibu…”

Saya pun bertanya, “kok adek cerewet banget. Kaya siapa sih?” Saat itu tetangga depan rumah yang bernama Bude Min sedang lewat. 

“celewet kaya bude Min.”

Ups….. Dan si bude sempat menoleh karena merasa namanya dipanggil. 

Ada beberapa celotehan yang menurut saya sayang kalau tidak diabadikan. 

Ayam Kebakaran

Ibu : adek maem apa? 

Adek : ayam. 

Ibu : ayam apa? (saya berharap dia menjawab, ‘ayam goreng upin-ipin. 

Adek : ayam kebakalan. 

Ibu : kok ayam kebakaran sih dek? 

Adek : nih liat bu… Ayame gocong. 

=========

Di lain waktu, 

Beberapa hari setelah mbah yutnya meninggal, saya ajak dia ke rumah ibu. Oleh ibu Fawwaz diajak ke rumah simbah (mbah yut Fawwaz yang lain).

Mbah : ayo Nak, ke rumah mbah yut! 

Adek : mbah, mbah yut mati. Di bubulan (kuburan).

Kami yang mendengar pun sontak tertawa. 

========

Kami semua menikmati tumbuh kembang si bungsu. Bahkan kakaknya pun tak jarang dibuat tertawa oleh ulahnya. 

“kenapa adek itu lucu sekali ya bu?”

Dalam hal ini, saya menganggap perkembangan berbahasa Fawwaz cukup baik. Hampir semua kata-kata sehari-hari sudah dia kuasai. Beberapa kata yang jarang dipakai pun dia mengerti. 

Beberapa konsep penting lain yang dia ketahui adalah berat-ringan, depan-belakang, luar-dalam, atas-bawah, jauh-dekat, kecil-besar, dan lain-lain. Selain itu, dia memakai dua bahasa dalam kesehariannya, bahasa Indonesia dan Jawa. Tidak ada kesulitan dan tidak mengalami kebingungan bahasa. 

Demikian secuil cerita keseharian kami yang dipenuhi ocehan si bungsu yang sedang belajar berbahasa. 

#RamadhanInspiratif

#Challenge

#Aksara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s