HE Farras · HE Fawwaz · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #16] Bahasa dan Tata Krama 

Saya tersentak saat ada yang menegur saya dengan halus kemarin siang. “Mbak, kok anaknya diajarinnya bicara Bahasa Indonesia sih? Kenapa nggak diajarin pake Bahasa Jawa Kromo saja? Mumpung masih kecil. Belum kasep.”
Saya terhentak, kaget sekaligus merasa ditampar kanan-kiri bolak-balik.  Banyak hal yang terlintas dalam pikiran saya saat itu. Saya merasa ada semacam beban baru dalam hidup saya, yaitu soal tata karma. Saya merasa ada PR besar dalam pendidikan tata karma anak-anak saya. Yaitu soal bahasa.

Mungkin bagi sebagian orang, memakai bahasa Indonesia thok dalam kehidupan sehari-hari saja sudah cukup. Tidak ada masalah dan tidak bermasalah. Berbahasa Indonesia adalah hal yang normal bagi kita, masyarakat Indonesia. Saya pun merasa seperti itu sebelumnya, setidaknya sesaat sebelum orang yang menegur saya itu datang.

Saya merasa tidak berdosa, tidak bersalah,  berkomunikasi dengan anak-anak dengan bahasa Indonesia. Toh sekarang banyak orang kampung sekarang banyak yang berbahasa Indonesia dan mengajari anak-anak mereka dengan komunikasi bahasa Indonesia. Setidaknya sampai orang itu datang menegur saya. 

Saya kemudian merenung panjang dan hasilnya saya merasa ada yang salah dengan pola didik kami. Kami seharusnya mengajarkan anak-anak berbahasa Jawa kromo kepada anak-anak dengan beberapa alasan. Alasan pertama adalah Karen saat ini kami tinggal di kampung. Kami akan terus berinteraksi dengan masyarakat kampung. Ada tata krama yang harus kami patuhi. Memang secara agama tidak ada hukum berbahasa. Tapi ada aturan bertatat krama dalam agama. Dan salah satu aturan tata krama dalam bermasyarakat adalah dengan memakai bahasa yang tepat pada lawan bicara. Dalah hal ini, kami sudah sewajarnya mengetahui dan menggunakan tingkatan bahasa pada lawan bicara. Di sinilah posisi pentingnya berbahasa Jawa kromo. 

Alasan kedua, bahasa adalah simbol sopan santun, dan bisa juga sebagai simbol akhlak. Akan lucu terdengar misalnya ada orang teriak-teriak memakai bahasa kromo halus. “heh! Njenengan ampun ngantos tumindak kados ngoten nggeh!” Saya katakan bahwa orang berteriak adalah hal yang tidak berakhlak (seperti dalam surat Luqman), maka salah satu cara berakhlak baik dalam ucapan (untuk orang Jawa) adalah berbahasa Kromo. Maaf sekali, sama sekali saya tidak berniat rasis, tapi saya ingin mengungkapkan bahwa salah satu cara berakhlak baik adalah dengan berbahasa Jawa Kromo dalam kehidupan sehari-hari.  
Alasan ketiga, kami ingin membahagiakan orang tua dengan mengajari anak-anak berbahasa Jawa Kromo. Orang tua kami adalah orang tua jadul yang sederhana. Tidak banyak harapan mereka kepada kami selaun kebaikan agama dan akhlak kami dan anak-anak kami. Mereka akan bahagia kalau anak cucu mereka bisa bertata krama kepada mereka. Itu saja. 

Lalu bagaimana langkah kami selanjutnya? Memulai berbahasa Jawa kromo pada mereka. Akan banyak tanya dan kendala pastinya. Kami sadar sepenuhnya akan hal itu. 

Dalam hal ini saya mengamati (selama 2 hari) respon anak-anak ketika kami berbahasa Jawa kromo pada mereka. 

Respon Farras

Farras banyak bertanya tentang kosa kata yang kami gunakan. Tapi saya rasa, menghadapi Farras lebih sederhana daripada adiknya. Saya yang jarang sekali berbahasa Jawa ngoko dengannya jadi tinggal menerjemahkan saja bahasa Jawa Kromo ke bahasa Indonesia. Begitu pula sebaliknya. 

Farras juga usianya sudah cukup matang dalam berbahasa. Kendalam miskomunikasi akan lebih minin ketika kami berbahasa dengan dua bahsa yang berbeda. 

Nah, kendalanya justru ada pada adiknya. 

Respon Fawwaz

Saya seperti menerjemah beberapa bahasa ketika mengajak Fawwaz berbahasa kromo. Yaitu bahasa Indonesisa, Jawa Kromo, dan Jawa ngoko. Itu karena Fawwaz lebih lancar berbahasa Jawa ngoko daripada Farras. Di sinilah letak ribetnya.

Saya harus menerjemah ke dua bahasa pada tiap-tiap kata dan kalimat. Dan itu membutuhkan lebih banyak waktu dibanding bila kami langsung berbahasa Indonesia. 

Maka strategi yang kami persiapkan adalah

  • Mengajak anak berkomunikasi dengan bahasa Jawa. 
  • Menetapkan target minimal perhari. Misal, hari pertama kosa kata yang harus dikuasai anak2 adalah kata ‘iya’ menjadi ‘Enggeh.’ Besok akan ada kata lain, dan setiap hari akan ada kata baru yang bisa mereka dengar, praktek, atau mereka gunakan setiap harinya. 

Sementara ini si adek ada kemajuan. Dia sudah lebih sering memakai kata “enggeh” daripada “iya.” Untuk si mas, saya belum melihat kemajuan ini. Farras masih setia dan nyaman dengan bahasa Indonesia. 

Kami akan berusaha menepati kalimat dan tekad kami dengan sungguh-sungguh. Karena kami percaya bahwa ada hubungan erat antara berbahasa dengan kemuliaan akhlak. 

#FitrahAkhlak

#KemampuanBahasa

#KurikulumaPAUD

#BahasaMontessori

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s