Institut Ibu Profesional · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #17] “Bagaimana Ikan Tidur?”

Sore ini, setelah mengaji di TPQ, saya memenuhi janji saya ke anak-anak untuk mengantar mereka membeli ikan. Kami pergi ke rumah adek Haikal (4 tahun) yang sedang giat-giatnya berjualan ikan. 

Sesampai di sana dan melihat kolam mini milik adek Haikal, duo F sangat takjub. “wow!” begitu komentar Farras. Fawwaz pun tak kalah senangnya karena melihat puluhan ikan cupang di sana. Kalau tak dicegah, pasti dia sudah mengobok-obok si kolam. 

“Aku mau beli 6 ikan bu,” kata Farras. 

“Aku mau beli tiga ibu.” Fawwaz menyahut. 

“Wah… Banyak sekali dek. Tiga itu berapa sih?”

“Telu,” jawab Fawwaz. 

Setelah dibujuk dan di rayu, akhirnya duo F menyetujui bahwa ikan cupang yang akan dibeli mereka jumlahnya empat ikan, dua untuk adik, dua untuk mas. Karena jenis ikannya berbeda, maka harganya pun tidak sama. 

Di sinilah momen menarik itu terjadi. Si adek benar-benar menghitung jumlah ikannya. Ketika satu ikan tertangkap, si adek bilang, “kurang satu lagi.” Bagi saya, ini adalah suatu hal yang wow. Suatu perkembangan kognitif yang baik menurut saya. Di usianya yang baru dua tahun, dia telah masuk dalam tahap pemahaman konsep angka, meski masih dengan bantuan benda materi. 

Sementara si mas saya minta menghitung jumlah keseluruhan ikan yang kami beli. 

“Dua ikan ditambah dua ikan jadi berapa jumlah semua ikan yang kita beli?”

“Empat ikan lah bu.”

“Oke. Sekarang kita hitung harganya. Ikan kecil harganya seribu (saya sambil memberi kode satu jari) dan ikan yang besar itu harganya dua ribu (dengan dua jari). Jadi berapa harga ikan yang mas beli?”

“Tiga ibu.”

“Tiga ribu, tepatnya. Sekarang, ditambah ikannya adek yang harganya juga tiga ribu, kita harus bayar berapa nih?”

Tiga jari saya pun beraksi. Disusul tiga jari selanjutnya. 

“Enam, bu.” Iya, enam ribu. 

Kehebohan tidak hanya sampai di situ. Anak-anak langsung mencari toples sesampainya di rumah. Masing-masing ikan milik mas dan adek dipisah menjadi dua toples. Mereka pun sibuk meminta saya memberi ikan mereka. 

Mengamati. Mereka dengan antusias mengamati gerak ikan-ikan kecil itu menyantap makanannya. Sesuai pesan sang penjual, ikan tidak boleh diberi makanan terlalu banyak. Sesekali mereka terbahak-bahak melihat tingkah ikan laga-laga yang selalu menyerang kawan setoplesnya. 

Momen penting lainnya terjadi lagi di kesempatan ini. Sang kakak yang memang raja tanya kembali menanyakan perihal seluk beluk keikanan. 

“Sudah jam 9 kok ikannya tidak bobok, bu?”

“Emang ikan itu minumnya apa?”

“Eh, gimana ya cara ikan bobok? Di atas (tenggelam) atau di atas (mengapung)?”

Nah lho… Ibunya ngacir dulu untuk materi-materi sains ini. Kita cari di internet atau di ensiklopedi dulu ya. 

#FitrahBelajar

#CerdasMatematika

#RanahKognitif

#SentraPersiapan

#Montessori angka
#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s