Farras-Fawwaz · HE Farras · HE Fawwaz · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #18] “Allah itu di Mana?

“Fitrah keimanan adalah fitrah terpenting dan melingkupu fitrah-fitrah lainnya.” –Ust. Harry Santosa—

“Kehadiran Tuhan adalah fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya.” (Buku Wawasan Al-Qur’an)

Anda pernah mendapat pertanyaan seperti itu? Hari-hari ini, minggu-minggu ini, dan bulan-bulan ini, saya seperti diberondong pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari sulung kami, Farras (5 tahun 2 bulan). Di antara pertanyaan-pertanyaannya adalah:

“Allah itu di mana?” “Allah itu seperti apa?”

“Allah itu punya baju?”

“Kok Allah nggak kelihatan?”

“Malaikat itu seperti apa? Ada sayapnya?”

“Iblis itu jahat ya?”

Dan seterusnya. 

Seperti kejadian senja kemarin. Selepas jamaah shalat Maghrib, seingat saya, saya hanya mengucapkan satu kalimat pendek.

“Nak, Allah itu hadir lho di depan kita saat kita shalat.” 

Itu saja awalnya. Tapi rupanya kami harus melanjutkan diskusi sampai adzan Isya’ berkumandang. Farras merasa penasaran dengan kalimat saya dan terus melanjutkannya dengan rentetan pertanyaan.

“Iya tah? Kalau Allah datang, kenapa Allah nggak kelihatan?”

Saya jelaskan bahwa Allah itu Ada, tapi Ia tidak terlihat oleh mata kita karena Allah sangat terang. Allah itu Cahaya yang menyilaukan dan tidak akan terlihat oleh mata biasa.

“Lalu Allah itu tinggalnya di mana? Di Kakbah? Kan Kakbah itu rumah Allah?”

Saya jelaskan lagi bahwa Allah tidak di mana-mana karena Allahlah yang menciptakan “mana-mana”. Allah itu meliputi segalanya, Allah itu dekat sekali dengan kita dan melihat semuanya. Allah selalu bersama kita. (QS. Al-Hadid ayat 4).

Pertanyaan Farras kemudian berlanjut kepada malaikat. Saya jelaskan sekilas karena adzan ‘Isya’ mulai terdengar. Dan rasa penasaran itu pun masih terlihat.

Sementara itu si adek Fawwaz (2 tahun 5 bulan) sedang giat-giatnya bertanya tentang asal muasal sesuatu. Nalar berpikirnya juga semakin tajam. Dia juga mulai memahami hubungan sebab-akibat pada kejadian-kejadian sederhana. 

Seperti saat dia sakit perut kemarin malam. Siangnya ibu cerita, saat saya sedang sibuk di kios, Fawwaz mengambil sambal yang pedes itu dan makan krupuk dengan mencocolkannya ke sambal. Setelah merasakan sakit perut, saya bilang ke dia pelan-pelan kalau untuk sementara, dia tidak boleh makan sambal dulu karena akan membuat perut sakit. Maka saat makan dan saya coba kasih sambal di piringnya, dia menolak dengan alasan, “nanti aku sakit perut, ibu.”

Dia juga sedang giat-giatnya melakukan percobaan tentang konsep tenggelam-mengapung (karena seringnya mendengar dan menyaksikan kakaknya melakukan berbagai percobaan terkait konsep ini) dan menanyakannya.

“Ibu, robot itu tenggelam nggak?”

“Mobil tenggelam nggak?”

“Mainan tenggelam nggak?”

“Daun tenggelam nggak?”

Capek? Bosan? Tentu saja saya merasakannya. Tapi demi menjaga rasa ingin tahunya, saya ikuti saja permainan mereka. Saya sediakan telinga lebar-lebar, hati luas terbuka, serta binar mata saya untuk mereka.

Itulah salah satu cara merawat fitrah belajar dan keimanan mereka. Saya sadar sepenuhnya anak-anak bukanlah kertas kosong yang bisa saya isi semau saya. Anak-anak sudah ada program-program khusus dan unik yang dibekalkan Penciptnya, dan tugas saya hanya membangkitkan, menyadarkan, dan merawat program-program itu.

#FitrahKeimanan

#FitrahBelajar

#FitrahNalar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s