FF

Jemu

Rizal terus termangu, memikirkan ucapan pedas ayah-ibunya.

“Masa untuk mendapat peringkat the best ten saja tidak mampu? Ayah sudah bayar bahal untuk biaya les dan kursus kamu tiap hari. Lihat adikmu itu, selalu mendapat peringkat satu di kelasnya. Dia itu yang bisa membuat bangga ayah dan ibu di depan keluarga dan teman-teman dosen. Lha kamu, apa yang bisa kamu berikan ke ayah sebagai sebuah kebanggaan?”

Kebanggaan, prestasi, the best ten. Entah sudah berapa kali terucap. Sepuluh kali. Seratus kali, seribu kali, bahkan mungkin sudah sejuta kali. Rizal jemu. Dia bosan. 

Tak ada jalan lain untuk mengakhiri kebosanan itu. Dan kini Rizal berada di sana, tergantung dengan tali tambang yang melilit lehernya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s