pernikahan

[RBI #19] Aku

Dua hari yang lalu, kami kedatangan teman dan anaknya. Kami sibuk berbincang sementara anak teman, Fina namanya bermain bersama Fawwaz. Usia mereka terpaut satu tahun, lebih tua Fina dibanding Fawwaz. Sampai setengah jam mereka bermain secara akur. Saat ayah Fina mengajak pulang pun ditolaknya karena dia merasa nyaman bermain dengan Fawwaz.

Saat itulah kejadian unik ini terjadi.

“Aku nggak mau pulang. Ayah pulang sendiri saja. Aku nanti pulang dengan ibu jalan kaki.”

Tiba-tiba Fawwaz menyahut,

“Hey… pulang sana. Jangan di sini.” Fina pun menangis mendengar ucapan Fawwaz.

Kami semua pun tertawa geli mendengar ocehan dua bocah itu. Saya menyadari inilah fase-fase fitrah individualitas Fawwaz. Dia sangat ego sentris. Dia berpikir, saat Fina pulang, dia akan nyaman bermain dengan semua mainan dan mobil-mobilannya (sesaat setelah Fina pulang, Fawwaz langsung mengemasi mainannya dan menaiki mobil yang dinaiki Fina). 

Fawwaz sedang berada pada fase bahwa “akulah yang menang.” Saya tidak menegur atau memarahnya. Hanya saat suasana sudah agak mereda, saya tanya pelan-pelan ke Fawwaz alasan dia menyuruh Fina pulang. Saya juga bilang ke dia kalau berbagi mainan dengan Fina itu akan membuat ibu senang. Hanya sampai di situ saja yang saya lakukan. Tidak lebih.  

——————

Farras pun masih berada di masa-masa ego sentris ini. Dia sedang melalui fase-fase fitrah individualitas. Saya banyak mengamati fase individualitas Farras saat bersama adiknya, baik itu saat bertengkar, berebut mainan, berebut kesempatan, dan saling bersitegang dengan adiknya. Kenapa dengan adiknya? Karena hampir sebagian besar waktu Farras habis bersama adiknya. 

Kalau di sekolah, saya belum pernah mendengar keluhan Farras bermain curang atau menjadi pemenang karena wataknya yang suka mengalah. Maka saat bersama adiknya inilah dia sering menunjukkan sisi individualitas dan ke”aku”annya. 

Maka saat terjadi ketegangan di antara mereka, maka saya tinggalkan cara-cara lama. Saya tidak menganut teori “anak yang lebih tua harus mengalah.” Setiap kejadian saya analisis dulu detil perkaranya. Kalau memang si adek yang merebut atau membuat gara-gara, saya akan menghukum adek. Tidak jarang saya menggendong Farras saat adek berbuat “sewenang-wenang” dan Farras harus terpaksa mengalah dengan adek. Sebagai bahan informasi, Farras berperangai suka mengalah, dan sebaliknya, Fawwaz lebih cenderung ingin selalu menang.

Jadi tidak ada kalah-menang dalam pengertian saklek di rumah kami. Si adek bisa saja kalah kalau memang dia yang tidak berhak. Misal saat si mas Farras membawa mainan dari sekolah ke rumah tadi siang dan adek merebutnya. Saya tidak memaksa Farras memberi mainannya ke adek. Saya hanya menawarkan beberapa solusi alternatif. Farras memberi pinjaman mainan ke adek dan sebagai balasannya, esok hari saya belikan satu mainan lagi. Atau Farras tidak mau memberi pinjaman, maka saya akan membelikan mainan baru untuk adek dan Farras tidak boleh sama sekali meminjamnya. Farras pun memilih opsi pertama.

Saya kira memberi rasa “aku” dalam diri anak dengan tidak memaksanya berbagi dan mengalah ini adalah hal penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan dihargai pada anak-anak.

#FitrahPerkembangan

#FitrahIndividualitas

#FBE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s