Institut Ibu Profesional · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #20] I Love Math

 

Selama kita masih bernafas, maka kita tidak akan terlepas dari matematika. Nampaknya kita harus sepakat akan hal itu. Kita tidak akan bisa menghindar dari sekedar membandingkan, menambah dan mengurangi, membagi dan mengalikan, dan termasuk di dalamnya adalah soal bangun-bangunan. Dan kecenderungan anak-anak pada matematika termasuk dalam fitrah bawaannya.

Saya dulu mengira bahwa matematika akan selesai seiring dengan usainya sekolah formal. Dan matematika adalah hal yang paling menakutkan dalam pelajaran. Sampai akhirnya saya bertemu denga guru saya Prof Mulyadhi Kartanegara yang banyak mengenalkan kepada saya tentang filsafat matematika. Bahwa matematika berada dalam tingkatan di bawah sedikit dari ilmu ontologi. Bahwa matematika bisa mengantar kita pada kokohnya iman. Bahwa matematika adalah pondasi keimanan karena diawali dengan konsep keesaan. Bahwa kebenaran matematika harus menjadi dasar kebenaran yang kita anut, bahwa antara benar-salah harus tegas setegas kebenaran 2+2 = 4. Matematika juga merupakan ilmu antara antara material dan immaterial yang bisa menjadi perantara pemahaman konsep ketuhanan. Agung sekali bukan? 

Dengan status hierarki matematika seperti itu, masihkah kita menyepelekannya? Masihkan kita menganggapnya tidak penting dan hanya sekedar syarat lulus ujian? 

Jangan! Saya memutuskan untuk anak-anak saya bahwa matematika harus dipelajari dengan suka ria. Pada tahap selanjutnya ia bisa menjelma menjadi pondasi kepribadian dan konsep kebenaran.

Farras sendiri termasuk anak yang suka sekali dengan matemtika. Dia sudah mengenal konsep angka 1-10 dan barang kongkritnya di usia sebelumnya. Dia juga sekali dengan geometri dan juga hal-hal sains yang sangat dekat dengan matematika. 

Kegiatan yang berkaitan dengan matematika yang tak pernah bosan dilakukannya adalah menyusun lego. Dalam penyusunan ini banyak konsep matematika yang harus dikuasai dan dipakai. Konsep angka (yang ada pada bentuk lego), bentuk lego (terkait dengan bangun-bangun ruang), konsep keseimbngan, dan juga perbandingan. 

Sementara Fawwaz di usianya yang kedua, dia sudah hampir menguasai konsep perbandingan dalam matematika, kecil-besar, panjang-pendek, jauh-dekat, lebih kecil-lebih besar-sama dengan,  tinggi-pendek. Dia juga sudah memahami hitungan 1-5 baik hitungan kongkrit maupun abstrak. 

Dia suka sekali menghitung jajan untuk abah, ibu, mas, adek yang berjumlah empat. Dia juga suka membagi satu jajanan menjadi dua bagian untuk mas. Fawwaz juga sudah membandingkan bahwa ibunya sudah gendut, tapi ummi lebih gendut dari ibunya. 

Farras suka membuat gambar di komputer dengan menggabungkan dua atau tiga macam bangunan menjadi sebuah bangunan baru. Dia hampir setiap hari, termasuk hari ini dengan konsep matematikanya mencoba membuat robot dari lego. Dari situ dia belajar menggabungkan dua, tiga, atau lebih bentuk-bentuk lego yang berbeda menjadi bentuk baru yang lebih rumit. 

Fawwaz bisa menghitung jumlah ikannya yang ada empat dan sampai menjadi satu biji saja karena mati. Ada konsep pengurangan di dalamnya. Dia juga suka sekali menamai segala hal yang dilihat dengan bentuk-bentuk yang dikenalnya. 

“aku itu sudah gede. Aku sudah panjang seperti ular.” 

Itu semua adalah matematika. Bahwa kebenaran matematika ada di depan mata dan harus merasuk dan terserap secara apik menjadi pondasi kepribadian yang akan dengan tegas membedakan mana kebenaran dan mana ketidakbenaran. 

#FitrahBelajar

#FitrahKeimanan

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s