HE Farras · HE Fawwaz · Institut Ibu Profesional · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #21] Pesawat Buatanku

Creator adalah orang yang mempunyai banyak ide yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya. Mereka menggunakan imajinasi untuk menemukan sesuatu rancangan, produk, atau layanan yang terbaru. Sementara desainer adalah orang yang memiliki sifat analitis juga banyak ide. Mereka suka membuat gambar dari sesuatu yang direncanakan untuk dibuat (yang memperlihatkan bagaimana cara membuatnya). BPA halaman212-213.

Sementara ini, kami melihat Farras mempunyai kekuatan sebagai ideation (penggagas) yang mempunyai peran pada kreasi dan desainer. Hampir setiap saat anak ini seolah mengatakan “ah, aku punya ide.” Ya, dia selalu berkata begitu. Kalau sudah begitu, saya harus siap-siap memasang telinga, mata, dan juga hati untuk menyimaknya. Kalau tidak, pasti dia akan mengulang-ulang penjelasannya sampai dia bisa memastikan kalau saya benar-benar memahami maksudnya.

Saya ingat betul saat dia berumur sekitar 2,5-3 tahun. Saat saya “menghukumnya” dengan menyimpan mainan lego kesukaannya karena dia tidak menepati janji membereskannya. (Tega sekali ya, anak umur segitu saya hukum). Tidak kehilangan akal, dia mengambil mainan lainnya sebagai alternatif. 

Jepitan jemuran dia pilih. Dia menjadikannya pedang, panah, dan juga tembak. Saya yang tadinya kesal mau tak mau saya pun menjadi tertawa dengan ide “gila”nya.

Kejadian seperti it uterus berulang. Saat kami memutuskan beralih usaha dari kuliner ke usaha fotocopy, dia orang yang pertama kali kegirangan karena pastinya akan banyak limbah kertas yang bisa dikreasikan. Gunting, tempel, dan mewarnai serta menggambar adalah kegiatan yang paling dia suka. 

Ada saja idenya. Seperti kemarin lusa setelah dia membeli mainan ninja mini. Apa yang dilakukan terhadap mainan itu? Bukan sekedar memainkannya. Dia memberinya sayap, topeng, sarung, dan lain-lain dari limbah kertas. Itu dilakukannya berulang-ulang tanpa jemu. Kemarin sore sepulang dari TPQ dia bilang kalau temannya mempunya mainan pesawat-pesawatan dari kertas yang beli di sekolah. Dia ingin mainan seperti itu. “Tapi nggak usah beli. Aku mau bikin saja dari kardus bekas, terus ditempel kertas warna (origami), dibeli gambar-gambar dan diwarnai, dipasang sayap.” Benar saja, dia merealisasikan idenya. Saya hanya membantu saat pemotongan kertas dengan cutter saja. 

Dan hari ini kejadian berulang lagi. “Aku ingin main ular tangga. Tapi aku tidak punya alatnya lagi. AKu mau bikin ya bu? Nanti bikin papannya, orangnya, kotak dadunya, dan apa lagi ya?” Saya hanya memberinya kertas buffalo bekas dan dia mengeksekusinya sampai selesai.  Banyak hal yang didapat dari pembuatan mainan ular tangga ini, terutama soal angka dan matematika. Dia menulis sendiri angka 1-100 (dengan beberapa kesalahan), dan juga konsep maju mundur dalam angka. Lagi-lagi matematika selalu ada di sekeliing kita.

Begitulah bakat yang saya lihat dari si sulung.

—————————————————————- 

Untuk si bungsu Fawwaz (2 tahun 5 bulan), yang kami lihat adalah kemajuan komunikasinya yang pesat. “Anak ini kosa katanya hampir lengkap ya.” Begitu komentar abahnya semalam. Dia mempunyai artikulasi yang baik dan bisa menjelaskan sesuatu dengan cara yang mudah dimengerti. (Kekuatan Komunikatif). Sejak usai 1 tahun, artikulasi Fawwaz sudah tepat, memanggil ibu dengan tepat (padahal menurut sebagian orang, pengucapan vocal “U” itu termasuk dalam artikulasi yang susah.

Di usia dua tahun dia sudah tepat dalam pengucapan huruf R dan S. Jadilah kami sekarang berbicara dengan sempurna pada anak dua tahun setengah ini.

Tidak hanya di artikulasi saja. Fawwaz mempunyai nalar yang sudah “nyambung.” Saat saya tegur kenapa dia masih minta gendong mbah, dia menjawab, “Aku ini masih kecil, ibu.” Saat dia membujuk saya untuk ikut sekolah saya bilang ke dia kalau dia masih kecil, belum saatnya pergi ke sekolah. “Aku sudah gede ibu.” Padahal pengucapan pertama dan kedua itu berjarak hanya satu jam. Saya menganggapnya sebagai suatu nalar yang sudah berjalan, semacam pola negoisasi yang cukup maju untuk anak usianya. 

Siang tadi, saat ditawari mbahnya es krim, dengan jelas dia menjawab, “Kan es krim itu bikin batuk mbah. Aku nggak boleh makan es krim. Aku masih batuk mbah.” 

Dengan kemajuan komunikasinya ini, kami tidak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan dia. Saat dia minta mobil-mobilan yang dijual tetangga depan rumah, saya dengan tegas bilang kepadanya kalau uang yang dipegangnya, Rp. 5000 itu tidak cukup untuk membelinya. Uang itu hanya cukup untuk membeli susu kotak dua biji. Dia menolak dan merengek. Tapi saya yakin kalau dia memahaminya. Hanya saja fase individual dan egoisnya memang sedang dominan di usianya saat ini. Saya merasa tidak perlu membohonginya, misalnya dengan mengatakan mainan mobil-mobilannya itu ada hantunya atau apa. Saya katakana saja terus terang kepadanya apa adanya karena saya yakin dia sudah mengerti. 

#FitrahBakat

#FitrahPerkembangan

#BakatdanPeran

#Kekuatan

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s