Institut Ibu Profesional · Mengikat Makna (RBI)

[RBI #22] Belajar Apa Saja

Kenapa saya mengambil judul itu? Karena dua hari ini kami belajar dari banyak hal. Kami sama-sama belajar dari bermacam-macam bidang.
Dimulai dari bangun tidur kedua bocah yang langsung ceria. Setelah keduanya membaca doa, sulung langsung bertanya, “apakah jam segini (5.30) kelelawar sudah tidur?” Saya jawab kalau kelelawar sudah tidur karena hari sudah terang. Tak mau kalah, si adek pun bertanya, “Apakah ikanku masih bobok?” Huahaha…. Saya angkat tangan untuk pertanyaan ini.

Si mas pun menyambung pertanyaan adek. “Bagaimana ikan bobok? Di atas atau di bawah (mengapung atau tenggelam)?” Lagi-lagi saya angkat tangan dengan pertanyaan ini.

Farras yang langsung mandi melihat ayam sudah berkeliaran di belakang rumah pun kembali bertanya, “Kenapa jam segini ayam-ayam sudah bangun?” 

Mungkin bagi sebagian orang, pertanyaan anak-anak itu biasa, atau bahkan mengganggu. Tapi saya merasa ada hal yang unik dari pertanyaan anak-anak. Nyatanya saya yang s2 saja tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. 

Saya merasa, pertanyaan Farras lebih mengarah ke hal-hal yang berbau sains. Dia seperti tak pernah kehabisan energi dalam “meneliti”, membaca, bertanya, bahkan beberapa kali sudah melakukan percobaan-percobaan sendiri dalam bidang sains. 

Itu banyak menular ke adeknya. Adeknya bahkan sedikit banyak sudah mengenal konsep timbul-tenggelam. Konsep angka dalam hitungan benda riil juga Fawwaz dapatkan dari kakaknya. “Beli jajan dan susunya dua ya bu. Satu aku, satunya mas.” Begitulah matematika sederhananya proses belajar Fawwaz. 

Siang hari kami belajar khusus untuk motorik halus Fawwaz, yaiti meronce. Rupanya dia kesulitan karena benangnua terlalu kecil. Dia pun menyerah dan permainan itu diteruskan kakaknya. Kalau untuk kakaknya, meronce saya tingkatksn level meroncenya dengan memberi tugas meronce namanya, adiknya, juga abah – ibu.

Farras yang sudah bisa membaca tentu tidak kesulitan menyusun huruf-huruf persegi dan meroncenya. Tantangannya justru ketika menata manik-manik agar tidak terbalik dan bisa dibaca dengan benar. 

Sementara itu, Fawwaz saya persilahkan mencocokkan eskrim dengan stiknya. Ini adalah latihan mengenal warna, klasifikasi, sekaligus melatih ketelitian.

Sorenya, anak-anak tiba-tiba masuk ke toko membawa bakso. Ketika saya tanya darimana mereka mendapat bakso, mereka bilang bakso itu dikasih ummi. Saya tanya kenapa mereka minta ummi belikan bakso. Farras menjawab kalau Fawwaz yang teriak minta bakso. Saya memang mendengar anak-anak teriak bakso. 

Di situ saya jelaskan kae mereka bahwa meminta-minta itu bukan hal yang bagus, meski mintanya sama ummi (mbahnya anak-anak, adiknya ibu). 

“Kenapa? Tidak sopan ya?”

Saya seperti mendapat jalur emas untuk menjelaskan salah satu ilmu akhlak tentang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. 

Dan saat saya menulis ini pun, saya masih mendengar si adek yang berpura-pura membaca buku.

“anak-anak terbang ke awan.” Begitu bunyi bacaannya.

#FitrahBelajar

#FitrahPerkembangan

#PerkembanganFisikMotorik

#Tantangan10Hari

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s