pernikahan

[RBI #25] Cinta Sains


“Cara terbaik belajar sains adalah dengan memperbanyak nature walk.” Begitulah pesan Charlotte Mason dalam filosofi pendidikannya.

Kami orang kampung. Dan alhamdulillah, sejak setahun lalu kami benar-benar menjadi orang kampung yang tinggal di kampung. Bersyukurnya lagi, orang tua kami masih memiliki sawah. Sawah di tempat kami istimewa. Saat musim hujan, sawah akan berfungsi menjadi tambak. Akan banyak jenis ikan dan udang yang kami piara sampai akhirnya kami panen. Begitu musim hujan berakhir, para petani pun bersiap-siap menjadikan tambak menjadi ladang yang akan ditanami padi. 

Ini musim panas kedua kami di kampung. Dan ini musim panen kedua yang kami lalui di sini. Seharusnya pagi tadi Farras sekolah. Tapi demi menyaksikan para buruh tani (yang datang dari Bojonegoro) memanen padi, Farras saya liburkan. Toh di sekolah juga sedang lomba-lomba untuk ibu-ibu. Sementara kami di sawah juga insya Allah akan banyak belajar.

Kami berempat berangkat dan membawa nasi untuk para pekerja. Begitu kami datang, para pekerja langung berhenti dan istirahat untuk sarapan. Sementara itu saya ajak anak-anak keliling sawah untuk menikmati alam. Hal yang jarang sekali kami lakukan karena kesibukan saya di kios dan abahnya yang tahun ini mengajar penuh waktu. 

Di kesempatan inilah saya merasakan proses belajar sedang terjadi melalui percakapan-percakapan kami. 

“Ibu, kenapa hari-hari kok muter saja?” Maksudnya, pergantian hari itu berputar.

“Karena bumi yang kita injak ini bulat dan terus berputar. Makanya hari-hari pun ikut berputar.” Saya pun memeragakan bagaimana sebuah bola berputar, bagaimana siang dan malam terjadi, dan hari terus berganti. Entah dia faham semuanya atau tidak.

“Kalau bumi berputar, kenapa kita tidak jatuh?” tanyanya lebib lanjut.

“Karena perputaran bumi begitu cepat. Dan bumi yang kita injak ini memiliki gaya gravitasi. Gaya yang menarik semuanya ke bumi.”

“Pakai apa bumi menariknya?”

“Gaya. Seperti apa ya? Nanti kita cari ya.” Begitu seterusnya. 

Sementara itu, Fawwaz juga tak kalah hebohnya dengan apa yang dilihatnya. Dia rupanya sudah paham betul perbedaan timun dan timun jepang (krai). Saat saya memetik satu buah timun jepang, saya coba mengetesnya dengan pertanyaan apakah ini timun biasa atau krai. Dia berhasil menjawabnya dengan tepat.

Ketika ada cabe yang sudah tua, dia begitu riang memetiknya. Ketika ada hewan kaki seribu dengan ukuran jumbo, ia pun semangat sekali memperhatikannya. Selain  timun jepang dan cabe, serta padi, di sawah ini kami menemukan pisang, labu, jagung yang sedang berkembang, tanaman sayur oyong, labu putih, kacang panjang, kunyit, beberap pohon nangka yang masih kecil, terong, dll. 

Fawwaz pun bisa membedakan mana cabe yang sudah tua dan mana yang belum bisa dipanen. Dia bahkan ikut memetiknya. 

Tentu saja ini adalah pembelajaran yang sangat efektif untuk kecintaan mereka terhadap sains. Saya melihat Farras sejauh ini mempunyai kecenderungan bakat di bidang sains. Dan kami sedang mempraktikkan metode nature walk-nya CM untuk perkembangan kecintaan mereka terhadap sains.

#NatureWalk

#CharlotteMasonPhilosophy

#FitrahBelajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s