pernikahan

[RBI #7] Perkembangan Motorik Kasar

“Maaaa (s), ajarin adek nyanyi, goyang kiri goyang kanan.” Lha! Saya yang kaget karena tak mengira kalau si adek rupanya mendengar dan memperhatikan gerak lagu berbaris di sekolah si mas.  “Yang pake joget gini lho maaaa.” Persis. Dia benar-benar merekam gerak lagu itu dengan tepat. Akhirnya mereka menggerakkan tubuh mereka, menyanyi bersama, dan kemudian tertawa… Continue reading [RBI #7] Perkembangan Motorik Kasar

pernikahan

Celoteh Anak-anak Seribu Kata [1]

Anak kami dua. Keduanya laki-laki. Farras (5 tahun) dan Fawwaz (2 tahun 4 bulan). Umumnya anak laki-laki lebih pendiam daripada anak perempuan. Tapi itu tidak berlaku pada dua jagoan kami. Keduanya sangat doyan ngomong. Banyak sekali yang mereka ceritakan. Lebih-lebih si bungsu. Maka saya menjuluki mereka anak-anak seribu kata.  Kemarin sore, saat nunggu azan maghrib,… Continue reading Celoteh Anak-anak Seribu Kata [1]

pernikahan

Bacaan Iqra Pertama Fawwaz

“Tidak ada metode yang lebih efektif dalam pendidikan dari teladan.” Saya tidak pernah meminta lebih-lebih memaksa anak-anak belajar baca-tulis-hitung. Yang saya lakukan adalah menyiapkan atmosfir sejuk yang bisa memantik rasa ingin tahu mereka.  Apa saja itu?  1. Menjadikan buku sebagai pemandangan sehari-hari. Di rumah kami tidak ada hiasan rumah atau perabotan mahal sebagai pajangan, yang… Continue reading Bacaan Iqra Pertama Fawwaz

pernikahan

Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

Saya perlu tegaskan di awal, bahwa saya tidak hendak berperang dengan siapapun di sini. Saya hanya ingin menanggapi postingan sahabat saya yang memberi pengantar pada sebuah tautan http://www.cerpen.co.id/post_140036.html yang memberi kesimpulan bahwa perempuan harus bekerja (di luar rumah?) sebagai solusi terbaik.  Pertama, ada banyak logika yang rancu, baik dalam artikel maupun pengantar yang ditulis. Untuk menghindari perdebatan,… Continue reading Haruskah Perempuan Bekerja (di Luar)? 

pernikahan

Menghargai Keinginan Anak

“Ayolah bu, cepat ganti bajunya. Sudah terlambat ke sekolah nih. ” Saat itu saya masih pakai daster, baju andalan saat melakukan standar pagi. Sejak tinggal di kampung, saya memiliki standar pagi yang menurut saya cukup konsisten. Yaitu, semua pekerjaan rumah, meliputi masak, cuci baju, mengurus dua anak, nyapu, selesai pukul 07.30. Jadi saat mengantar anak… Continue reading Menghargai Keinginan Anak